Aktivis dakwah yang (katanya) bukan ahli fiqih memang sebaiknya membahas masalah dakwah daripada masalah fiqih. Karena itu, kita menyambut baik lontaran permasalahan yang dia kemukakan, untuk kemudian kita bahas bersama-sama. Mengenai persoalan aktivis dakwah yang lakukan pacaran (secara islami), dia berkata:
Apa yang akan terjadi jika konsep [pacaran islami] ini ditelan mentah2 oleh aktivis dakwah yang jam terbangnya terhitung baru di dunia dakwah..Aktivis dakwah yang masih dalam pemantapan jati diri, dan tiba2 tersandung virus2 cinta yang mematikan. tentu saja pacaran Islami menjadi sebuah legalisasi. Lalu, apa yang akan terjadi dengan dakwah sang aktivis? bagaimana mungkin objek dakwahnya dapat bersimpati kembali padanya kalau ia sendiri memberikan contoh yang tidak layak dicontohkan oleh seorang aktivis dakwah yang sejatinya selalu mendorong amar ma’ruf nahi munkar..? lalu, bagaimana nasib dakwah selanjutnya..
Kasus VMJ yang melanda aktivis dakwah saja sudah membuat kita gerah dan membuat dakwah kehilangan citra..mengapa mesti ditambah lagi dengan sebuah istilah yang jelas2 sangat menggiurkan bagi para newbie aktivis dakwah..bahkan yang sudah bertarbiyah sekian lama pun bisa jadi tergelincir jika tidak punya prinsip yang kokoh.
Marilah persoalan tersebut kita bahas satu per satu.
Supaya Konsep [Pacaran Islami] Tidak Ditelan Mentah-Mentah
Kita dapat menempuh dua langkah strategis: (1) Mematangkan konsep pacaran islami, (2) Membicarakan konsep pacaran islami secara terbuka dan tidak lagi menganggap tabu.
Selama pihak penentang islamisasi pacaran belum mampu menyampaikan hujjah/argumentasi yang begitu kuat, sehingga dapat diterima oleh para pendukung pacaran islami, lebih baik kedua pihak sama-sama menyumbangkan gagasan untuk pematangan konsep pacaran islami. Pembicaraannya pun perlu secara terbuka dan tidak lagi menganggap tabu.
Mengapa perlu terbuka dan tidak lagi menganggap tabu? Kasus pendidikan seks untuk remaja merupakan contoh yang berharga. Ketika seks dipandang sebagai masalah yang tabu untuk dibicarakan para remaja, mereka justru menerima “pendidikan” dari sumber-sumber yang tidak berkompeten. Misalnya dari teman, sesama remaja yang sama-sama belum mendalami seluk-beluk dampak hubungan seks di luar nikah. Atau dari pornografi di internet yang kini masih merajalela dan mudah diakses siapa pun.
Demikian pula pada kasus pacaran bagi “aktivis dakwah yang jam terbangnya terhitung baru di dunia dakwah”. Bila pacaran dianggap tabu untuk mereka, maka mereka malah menjadi kekurangan ilmu pacaran islami yang “matang”.
Tanggapan Obyek Dakwah Bila Aktivis Dakwah Lakukan Pacaran Secara Islami
Daripada mencontoh gaya pacaran jahiliyah yang marak di televisi, majalah, internet, dan berbagai media lainnya, akan jauh lebih baik bila obyek dakwah mencontoh gaya pacaran islami para aktivis dakwah. Mereka bisa melihat, “Wah, ternyata pacaran tidak harus peluk-pelukan, cium-ciuman, dan aktivitas mesum lainnya. Ternyata pacaran tanpa mendekati zina asyik juga!”
Mau menyimak suara obyek dakwah mengenai hal ini? Silakan lakukan penelitian!
Sambil menunggu hasil penelitian ilmiah itu, alangkah baiknya kita simak suara seorang obyek dakwah:
…. Pendekatan yang keras hanya membuat orang-orang seperti saya yang masih awam tentang pemahaman agama menjadi apatis. Simplenya, akan lahir statement
“Ah, islam ngga asik. mending milih agama laen aja atau sekalian tak beragama”.
saya tidak akan menyanggah jika komentar ini terdengar konyol. tapi pak shoddiq, saya menganggap anda seorang da’i, tolong sampaikan kepada teman-teman dai mas shoddiq, statement semacam itu ada dipikiran banyak orang seperti saya yang masih dangkal.
saya pernah membalas komentar mas kartubi di blog saya:
http://www.edo.web.id/wp/2007/11/02/republik-instan/#commentsintinya, yang ummat kan ngga cuma yang dateng ke masjid kan mas? orang-orang yang ke diskotik, juga ummat. baik ber-KTP Islam maupun tidak. saya, dan banyak orang di negara ini, perlu mendapatkan dakwah yang menyejukkan.
semoga banyak dai yang mampu membuktikan bahwa Islam benar benar agama yang rahmatan lil alamin…
Supaya Mereka Tidak Tergelincir (dan Kita Tidak Gerah)
Sebagaimana yang ditekankan oleh Ibnu Qayyim dan Abu Syuqqah, pacaran islami membutuhkan pengawasan dari orang lain. Dengan pengawasanlah kita bisa mencegah tergelincirnya para aktivis dakwah (dan juga obyek dakwah) dalam pacaran.
Apabila kita secara keras melarang mereka pacaran, maka mereka justru sedikit-banyak akan melakukannya secara diam-diam, sehingga sulitlah bagi kita untuk melakukan pengawasan terhadap mereka. Jadi, lebih baik kita merestui mereka melakukan pacaran, tetapi dengan catatan bahwa kita harus senantiasa waspada dalam melakukan pengawasan terhadap perilaku pacaran mereka.
Wa Allaahu a’lam.
Ditulis dalam Tidak terkategori