Ibnu Qayyim memang menerima keberadaan pacaran yang islami

Beberapa penentang islamisasi pacaran memfitnah bahwa saya mengada-ada ketika saya mengatakan, “Ibnu Qayyim menerima keberadaan pacaran yang islami.” Ya, lagi-lagi mereka memfitnah. (Saya menyebutnya “fitnah” karena tuduhan mereka tidak disertai bukti yang akurat.) Meskipun saya sudah menyodorkan bukti tertulis yang akurat, mereka masih menyangkal kenyataan bahwa Ibnu Qayyim menerima keberadaan pacaran yang islami. Seorang penentang islamisasi pacaran (selanjutnya disebut SPIP) menulis di forum MyQuran, 2 Desember 2007, sbb:

..pada kisah fenomena cinta pranikah Imam Ibnul Qayyim Al Jauzi …tidak tepat jika dikatakan hal itu bentuk ‘pacaran islami ala Imam Ibnul Qayyim’. Karena tidak sesuai (baca: tidak identik) dengan fakta dan gejala yang mewakili sebuah kondisi yang disebut ‘pacaran’. ‘TTM’ mungkin iya, tetapi bukan “pacaran”.

Pengambilan kesimpulan SPIP tersebut keliru karena definisinya keliru. Dia menyangka bahwa pada fenomena pacaran, harus ada perilaku “saling mengakui pasangan sebagai pacar”. Padahal, perilaku tersebut merupakan ciri pacaran ala Barat (yang berbeda dengan pacaran islami ala Ibnu Qayyim).

SPIP juga mengambil kesimpulan yang keliru ketika menyatakan sbb:

..kisah yang dipaparkan Imam Ibnul Qayyim itu tidak dimaksudkan bahwa hal [pacaran islami] itu adalah perbuatan yang boleh. Justru yang ingin ditegaskan oleh Imam Ibnul Qayyim dalam kisah2 itu adalah meski sebagian orang2 didalam kisah itu hampir dimabukkan oleh cinta mereka kepada kekasihnya, mereka masih menjaga kesucian diri untuk tidak larut didalam perbuatan2 yang dilarang agama, semacam mendekati zina. Lagi2 fakta ini menunjukkan bahwa fenomena cinta pranikah yang dikisahkan oleh Imam Ibnul Qayyim Al Jauzi itu “jauh dari apa yang kita kenal dengan fenomena “pacaran”.

Benarkah contoh-contoh percintaan pranikah ala Ibnu Qayyim itu “jauh dari apa yang kita kenal dengan fenomena ‘pacaran’”? Tidak! Bukan hanya tidak jauh, bahkan sangat dekat. Begitu dekatnya, sampai-sampai istilah “pacaran” pun digunakan, disamping istilah lain yang semakna dengannya.

Di buku Ibnu Qayyim itu, Taman Orang-orang Jatuh Cinta, kita jumpai istilah “pacaran” muncul tujuh kali, yaitu di halaman 617, 621 (lima kali), dan 658. Adapun istilah-istilah lain yang menunjukkan keberadaan aktivitas tersebut adalah “bercinta” (hlm. 650), “gayung bersambut” (hlm. 613), “saling mengutarakan rasa cinta” (hlm. 620-621), “mengapeli” (hlm. 642-643), “berdekatan” (hlm. 617), dan sebagainya.

Benarkah orang-orang yang masih menjaga kesucian pada contoh-contoh pacaran ala Ibnu Qayyim itu terbatas pada yang “hampir dimabukkan oleh cinta mereka kepada kekasihnya”? Tidak! Percintaan sebagian besar diantara mereka masih terkendali sepenuhnya. Salah satu diantaranya dinyatakan secara tegas: “keduanya saling mengutarakan rasa cintanya masing-masing melalui bait-bait syair yang indah dan menarik. … Muhammad bin Sirin mengatakan bahwa dahulu mereka, saat melakukan pacaran, tidak pernah melakukan hal-hal yang mencurigakan.” (hlm. 620-621)

Jadi, Ibnu Qayyim memang menerima keberadaan pacaran (yang islami).

Wa Allaahu a’lam.

18 Tanggapan to this post.

  1. Posted by Joy on 12 Desember 2007 at 11:11

    Yang haram sudah jelas haram dan ada dalilnya, yang Halalpun demikian jelas Halalnya (tidak menimbulkan perdebatan)
    Dalam Sebuah Hadist (Afwan saya lupa HR nya) yang intinya, Jika ada yang tidak jelas Hukumnya maka Masuk kepada yang Haram…karena jika kita menjauhinya maka berarti kita telah menjauhi dari dosa dan jika kita melakukannya berarti kita telah terperosok kepada dosa…….
    Apakah pacaran sudah Jelas Halalnya ??? Kalau jelas-jelas halal Ayat apa dan Hadist Apa yang jelas membahas Pacaran ???
    Ingat memutuskan itu halal atau Haram haruslah bersumber dari Allah bukan dari manusia………………

    Tanggapan pengelola:

    1) TIDAK ada hadits yang menyatakan “Jika ada yang tidak jelas Hukumnya maka Masuk kepada yang Haram”.

    2) Untuk dalil halal-haram pacaran, lihat http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/06/halal-haram-pacaran-dalil-mana-yang-lebih-kuat/ dan http://pacaranislami.wordpress.com/2007/11/04/bantahan-terhadap-penentang-dalil-dalil-pacaran-islami/

    Balas

  2. Ibnul Qayyim menerangkan hal tesebut di dalam bukunya untuk mengajari bagaimana cara pendekatan secara Islam untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Ini jelas untuk orang yang sudah dewasa yang serius mau menikah, bukan hanya pendekatan yang malah bisa terjadi hal2 yang dilarang, inipun pendekatan yang ada beberapa syarat yang untuk jaman sekarang kayaknya sangat berat. Kalau untuk ini bisa saya terima dengan lapang dada, karena dada saya memang seperti lapangan BUKAN PACARAN ISLAMI. Bukan pacaran pada umumnya. Bukan untuk menghalalkan pacaran seperti pacaran jaman sekarang.

    Jika anda serius ingin menikah, syarat2 PDKT berat itu bisa anda laksanakan, silahkan…
    Tapi ingat, jangan berduaan, coz berkhalwat itu dilarang…

    Anda bisa lihat realita pacaran pada jaman sekarang, berkhalwat (berduaan di tempat2 sunyi), ciuman, pegangan, raba ini itu, malah sampe kepada hal yang sangat dilarang (ZINA) merupakan bumbu pacaran, ya kan? Yang lebih gawat, anak belum keras batok kepala udah tau pacaran, sudah tau untuk melakukan hal2 spt itu.

    Yang lebih menghina, sekarang ada yang pake peci saat berkunjung ke rumah pacar, ngucapin assalamu’alaikum saat bertemu, ngucapin bismillahirrahmanirahim saat mau mencium pacar, saat mau berzina, apakah ini pacaran islami? Menghina Islam, bukan islami…

    Pacaran islami kayaknya hanya pleidoi bagi pendapat mereka, bagi mereka yang ingin pacaran, sedang pacaran, hanya untuk menghalalkan pacaran, pacaran seperti sekarang. OK jika anda tetap mau pacaran, silahkan pacaran, karena dengan hukum dunia, itu HAM, hak anda, tapi jangan namakan pacaran islami.

    Tanggapan Pengelola:

    Untuk alasan penggunaan istilah “pacaran islami”, lihat http://pacaranislami.wordpress.com/about/

    Balas

  3. Posted by realstupid on 16 Desember 2007 at 11:19

    Assalamu ‘alaikum warohmatullohi wabarokatuh

    Mmmmmm…..
    Mau nanya:
    1. Adakah istilah jadian, nembak, putus dalam pacaran islami…?
    2. Kalo misalnya nggak ada, bagaimana kita tahu sedang berpacaran si dia?
    2. Apakah boleh punya pacar dua….?
    3. Bolehkah selingkuh….?Mungkin secara islami…?

    Balas

  4. @ realstupid

    wa’alaykum salam wa rahmatullah wa barakatuh

    Maaf, saya belum punya kesempatan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mudah-mudahan ada rekan lain yang bisa membantu saya menjawabkan.

    Balas

  5. Posted by realstupid on 17 Desember 2007 at 12:59

    Syukron akh…ana maklum, ana juga udah baca di web pacaran islami kalo antum sedang libur nge-blog dalam menghadapi hari raya….

    Selamat Hari Raya untuk Antum dan Rekan-rekan semua….

    Balas

  6. Istilah pacaran yang ada sekarang ini, tidak ada dalilnya dalam Islam. Apa sih pengertian pacaran sebenarnya. Ini dulu yang harus di pahami. Kalau pengertian pacaran seperti yang di praktekkan sekarang ini “Hubuangan dua insan laki-dan perempuan tanpa pernikahan” Jelas Pacaran tidak ada yang Islami.

    Kalau mencitai seseorang/ lawan jenis, ya sah-sah saja selagi tidak melanggar aturan-aturan Agama/Dinullah. Nah sebagai orang Muslim yang mengaku beragam Islam, selaga perbuatan dan tindak tanduk kita haurslah di dasarkan kepada Al qururan dan Sunnah. Berdasarkan selain yang dua itu adalah tertolak.

    Tanggapan Pengelola:

    Sudahkah Sdr. Rostam membaca tulisan-tulisan kami dalam hal ini? Semua yang dipersoalkan itu sebetulnya sudah terjawab. Lihat misalnya http://wppi.wordpress.com/eksistensi/ dan http://pacaranislami.wordpress.com/2007/09/03/ciuman-dengan-pacar/

    Balas

  7. salam

    dari katanya aja pacaran,,,,pacaran kan dari barat..

    berarti ada pembunuhan islami,mencela islami,dll

    ana gak setuju…

    Tanggapan Pengelola:

    Sudahkah Sdr. Oki membaca tulisan-tulisan kami dalam hal ini? Semua yang dipersoalkan itu sebetulnya sudah terjawab. Lihat misalnya http://wppi.wordpress.com/eksistensi/

    Balas

  8. salam

    saya akan liat pak….

    salam

    Balas

  9. Posted by Kaezzar on 10 Januari 2008 at 23:38

    Kalo menurut blog ini malah asl katanya dari bahasa jawa kawi

    http://catatan-yuniar.blogspot.com/2007/11/nama-nama-bahasa-kawi.html

    lagipula dari jamannya syailendra and hayam wuruk merintah…kisah percintaan udah banyak…entah deh apa sebutannya pacar..kekasih..ataw apa

    Wassalam

    Balas

  10. Posted by realstupid on 29 Januari 2008 at 16:59

    Masih bingung nih…., soalnya pertanyaannya belum dapat jawaban, Insyaa Alloh ditungguin deh…..ngak usah buru-buru deng….

    Balas

  11. Posted by Kaezzar on 31 Januari 2008 at 21:43

    Iseng2 jawab boleh y pak…

    >>>1. Adakah istilah jadian, nembak, putus dalam pacaran islami…?>>>
    ada…IMHO

    >>>2. Kalo misalnya nggak ada, bagaimana kita tahu sedang berpacaran si dia?>>>
    yg gampang si tanya langsung ke orgnya…hehe
    masalahnya tgl berani ataw ngga :)

    >>>3. Apakah boleh punya pacar dua….?>>>
    g boleh…

    >>>4. Bolehkah selingkuh….?Mungkin secara islami…?>>>
    kalo kira2 dimungkinkan untuk tidak melanggar Quran dan Hadits…boleh dicoba

    Wassalam

    Balas

  12. Jawaban kaezzar mewakili jawabanku.

    Di sini, aku tambahkan pertanyaan-balik: adakah seronok islami?
    Lihat http://muslimromantis.wordpress.com/2007/11/28/inilah-foto-seronok-siti-nurhaliza/

    Balas

  13. Posted by realstupid on 4 Februari 2008 at 12:47

    Assalamu ‘alaikum Warohmatullohi wabarokatuh…

    @kaezzar

    1. afwan ana belum tahu apa IMHO…?

    2. untuk no 2 ini antum nggak perlu jawab soalnya di no. 1 antum udah bilang ada…., cuman masih blum tahu imho itu apa…., afwan kalo ana belum tahu istilah tersebut.

    3. punya pacar 2….? ga boleh ya….? bukankah hukum dalam muamalah itu “hukum asal segala sesuatu boleh kecuali ada dalil larangannya” , so apa dalil yang melarangnya….?

    4. Apa artinya boleh….? masih belum jelas….

    @M Shodiq Mustika.
    Afwan akh…., biasanya ana lihat jawaban antum yang jelas, tapi kalau jawaban antum terwakili oleh jawaban akh kaezzar….., ana lebih berharap kalau antum yang menjelaskannya secara mendetail, karena antumlah yang paling mengerti permasalahan ini…., ana tidak meminta jawaban “boleh” atau “tidak boleh”, tapi penjelasannya seperti apa….

    sedikit penjelasan buat antum…., saat ini saya bukan sebagai penentang pacaran islami yang antum usung, tapi dengan pertanyaan2 ana mungkin ana bisa membedakan seperti apa pacaran islami yang antum maksud dan seperti apa perbedaan dan persamaannya dengan pacaran yang biasa….(atau yang biasa difahami oleh awam), terus terang dari pertanyaan2 ana yang terdahulu dan telah antum jawab ana mulai bisa mengerti dengan maksud antum….

    dan mengenai pertanyaan tambahan antum mengenai “seronok” ditulisan antum tentang Siti Nurhaliza…ana nggak punya urusan dengan masalah tersebut….soalnya ana nggak masalah dengan istilah antum.

    Balas

  14. @ realstupid

    Maaf, aku kekurangan waktu untuk sampaikan penjelasan secara rinci. Skarang masih ada kesibukan lain.

    Intinya: pacaran itu tergolong dalam wilayah ijtihad. Salah satu implikasinya: mungkin ada mujtahid yang melarang kita punya pacar lebih dari satu, tapi mungkin pula ada yang membolehkannya. Bahkan, mungkin saja ada mujtahid yg melarang kita punya pacar walau hanya satu.

    Kalau mau penjelasan yg lebih lengkap, silakan baca buku-buku kami.

    Balas

  15. Posted by realstupid on 4 Februari 2008 at 17:05

    mungkin…?
    pendapat antum…?
    pendapat Abu Syuqqah…?
    pendapat Ibnul Qoyyim…?

    atau belum ada mujtahid yang berijtihad dalam masalah ini….? tentunya antum lebih tahu dalam masalah ini…

    ya sudah kalau antum terlalu sibuk…ana nunggu jawaban akh kaezzar saja….semoga mewakili pendapat antum….

    untuk akh kaezzar…ana masih nunggu dalil yang melarangnya…lho….dan pertanyaan yang belum jelas…..

    Balas

  16. Posted by Kaezzar on 6 Februari 2008 at 15:53

    1. IMHO = In My Humble Opinion…
    Tapi intinya saya jawab…ada
    Maaf kalo malah udh bwt bingung :)

    3. Suatu aturan ada yg terkait dan tidak terkait secara langusung…salah satunya di hal pacaran tadi

    Boleh ga punya pacar 2…?
    Kenapa saya jawab ngga…karena ada aturan g tertulis di balik ucapan itu…ada konsekuensi yg orang2 sudah tau…bahwa dalam menjalin sebuah hubungan, harus saling setia…
    Ketika punya pacar 2, berarti ada aturan yg dilanggar yaitu tidak setia, tidak amanah thd apa yg sudah disepakati…

    Anda pernah dengar multi taaruf???
    Aturan dasar taaruf ga ada yg nyebutin bahwa seseorang tidak boleh taaruf k 2 org ataw lebih…
    Tapi kenapa hal itu tidak diperbolehkan?
    Dalil langsung g ada yg melarang…tapi bagaimana dgn perintah Islam utk saling menghormati sesama muslim…bukankah melakukan multi taaruf berpotensi menimbulkan sakit hati dari satu pihak…karena manusia memiliki perasaan…dan menjaga perasaan org lain merupakan bentuk implementasi dari pelaksanaan perintah Islam, sedangkan ketika kita melanggar, artinya kita melukai perasaan seseorang…dgn kata lain melakukan perbuatan aniaya…dan ini dilarang dalam Islam… :)

    Poligami? haruskah bilang dulu ke istri pertama?
    Dalil qath’i nya saya sendiri belom nemu…
    Tapi perintah yg terkait dgn menjaga dan menghormati istri saya rasa banyak…
    Dan meminta izin ke istri pertama merupakan bentuk implementasi dari hal tersebut…:)

    Kurang lebih begitu…maaf kalo kurang jelas…:)

    4. Kalo ada cara selingkuh yg ngga ngelanggar Quran dan Hadits…boleh dicoba…

    Intinya ga boleh…koz selingkuh merupakan bentuk pelanggaran janji ataw khianat.
    Itu baru salah satu bentuk pelanggaran
    Kurang lebih sama seperti penjelasan di no.3

    Wassalam

    Balas

  17. Posted by realstupid on 6 Februari 2008 at 16:38

    akh kaezzar:
    Boleh ga punya pacar 2…?
    Kenapa saya jawab ngga…karena ada aturan g tertulis di balik ucapan itu…ada konsekuensi yg orang2 sudah tau…bahwa dalam menjalin sebuah hubungan, harus saling setia…
    Ketika punya pacar 2, berarti ada aturan yg dilanggar yaitu tidak setia

    sebentar….ana masih gak ngerti….,hmmm artinya ketika punya pacar 2 itu berarti tidak setia….., ntar ana masih punya pengertian ana yang subjektif dengan kata “setia”(tidak tahu apa yang tercantum di kamus besar)….apakah orang yang berpoligami itu selalu dikatakan tidak setia….?
    bagaimana jika kita mencintai 2 orang akhwat…..kita ikhlas memberikan cinta kepada ke2nya…., apa masih bisa dikatakan setia…?

    akh kaezzar:

    tidak amanah thd apa yg sudah disepakati…

    emang pas pacaran itu ada kesepakatan….? sifatnya permanen(harus ada dalam pacaran islam) atau kesepakatan pas jadian…?

    akh kaezzar:

    Anda pernah dengar multi taaruf???
    Aturan dasar taaruf ga ada yg nyebutin bahwa seseorang tidak boleh taaruf k 2 org ataw lebih…
    Tapi kenapa hal itu tidak diperbolehkan?
    Dalil langsung g ada yg melarang…tapi bagaimana dgn perintah Islam utk saling menghormati sesama muslim…bukankah melakukan multi taaruf berpotensi menimbulkan sakit hati dari satu pihak…karena manusia memiliki perasaan…dan menjaga perasaan org lain merupakan bentuk implementasi dari pelaksanaan perintah Islam, sedangkan ketika kita melanggar, artinya kita melukai perasaan seseorang…dgn kata lain melakukan perbuatan aniaya…dan ini dilarang dalam Islam…

    he…he….
    berpotensi ya…?
    jawabannya seperti orang-orang yang menentang pacaran islami….misalnya yang mengatakan “pacaran berpotensi menimbulkan fitnah”, “pacaran berpotensi menimbulkan syahwat”, “berpegangan tangan berpotensi menimbulkan syahwat”, “melihat wajah perempuan berpotensi menimbulkan syahwat”….bagaimana dengan hal-hal tersebut…?


    Poligami? haruskah bilang dulu ke istri pertama?
    Dalil qath’i nya saya sendiri belom nemu…
    Tapi perintah yg terkait dgn menjaga dan menghormati istri saya rasa banyak…
    Dan meminta izin ke istri pertama merupakan bentuk implementasi dari hal tersebut…:)

    tetep aja mas kaidah segala sesuatu itu boleh kecuali ada larangannya….artinya pernikahan seseorang tetap halal dan sah meskipun tidak minta izin kepada isterinya…., terus apakah tidak meminta izin kepada isteri ketika mau poligami apa berarti tidak menghormati isteri…?

    akh kaezzar:

    4. Kalo ada cara selingkuh yg ngga ngelanggar Quran dan Hadits…boleh dicoba…

    Intinya ga boleh…koz selingkuh merupakan bentuk pelanggaran janji ataw khianat.
    Itu baru salah satu bentuk pelanggaran
    Kurang lebih sama seperti penjelasan di no.3

    ini tergantung perjanjian saat jadian itu kan….? artinya ngga ada aturan dari sono-nya….kan?
    ok ana ganti kata selingkuh(soalnya mungkin di kamus besar artinya pengkhianatan)….dengan mempunyai pacar lain tanpa sepengetahuan pacar yang satunya lagi….

    akh kaezzar:
    Kurang lebih begitu…maaf kalo kurang jelas…:)
    kurang jelasnya karena jawabannya kurang lebih seperti para penentang pacaran islami…..

    Wassalam

    alaikum salam warohmatullohi wabarokatuh…

    ==belum ada dalil yang melarang, hanya saja adat masyarakat yang berlaku….so secara agama dianggap boleh(kalo ngikutin pemikiran gagasan pacaran islami)==

    Balas

  18. Posted by Kaezzar on 10 Februari 2008 at 13:59

    >>>>>sebentar….ana masih gak ngerti….,hmmm artinya ketika punya pacar 2 itu berarti tidak setia….., ntar ana masih punya pengertian ana yang subjektif dengan kata “setia”(tidak tahu apa yang tercantum di kamus besar)….apakah orang yang berpoligami itu selalu dikatakan tidak setia….?
    bagaimana jika kita mencintai 2 orang akhwat…..kita ikhlas memberikan cinta kepada ke2nya…., apa masih bisa dikatakan setia…?>>>>>

    masalah poligami sedikit berbeda karena memang ada ketentuan dan syarat2nya…itupun masih jadi ada beberapa permasalahan yg sampai sekarang masih debatable di kalangan ulama sendiri
    so utk masalah poligami, saya kembalikan ke diri masing2 utk mengikuti kecenderungan pandapat yg mana…lagipula agar topiknya g melebar

    >>>>>emang pas pacaran itu ada kesepakatan….? sifatnya permanen(harus ada dalam pacaran islam) atau kesepakatan pas jadian…?>>>>>

    kalo kasarnya si…tau sama tau…
    mgkn bisa dibilang hukum adat juga…dan seperti yg saya katakan…hukum, ada yg sifatnya tertulis, ada yg sifatnya tidak tertulis..ada norma, ada nilai2 luhur…dan itu sifatnya umum di masyarakat

    kalo anda beli tiket di loket, anda lgsung menyelak tanpa antri, g akan melanggar langsung aturan Quran dan hadits secara langsung….
    tapi masalahnya, ada hal2 yg secara tidak lamgsung anda langgar disitu….baik itu ketentuan dalam Quran atau hadits…di mana Quran dan hadits selalu mengajak kita untuk menghormati dan menghargai org lain…termasuk menghargai orang2 yg sudah lelah dan lama berdiri mengantri di loket utk mendapatkan tiket…
    pacaran juga begitu…g perlu di deklarasi ataw ditulis di atas hitam putih pake matre 6000 rupiah
    sama seperti ngantri, g perlu ditulis “harap antri” dulu baru harus antri…oke?! :)

    >>>>>he…he….
    berpotensi ya…?
    jawabannya seperti orang-orang yang menentang pacaran islami….misalnya yang mengatakan “pacaran berpotensi menimbulkan fitnah”, “pacaran berpotensi menimbulkan syahwat”, “berpegangan tangan berpotensi menimbulkan syahwat”, “melihat wajah perempuan berpotensi menimbulkan syahwat”….bagaimana dengan hal-hal tersebut…?>>>>>

    kenapa saya g tulis “pasti” aja disitu…?
    karena di beberapa kasus, ada yg memang g melarang multitaaruf…so bagi mereka2 yg meyakini multitaaruf itu boleh, maka konsekuensinya, mereka juga harus mau diduain…dan yg seperti itu ada…
    tapi kan dari yg kebanyakan saya tau, para peserta taaruf (lagi2) sudah tau sama tau…bahwa aturan mainnya adalah ketika taaruf dgn seseorang, maka dia tidak boleh tiaaruf lg dgn org lain…itu rumus umum…
    kalo ada yg berbeda keyakinan dan pendapat, seharusnya bicara lgsung dari awal kalo dia meyakini bolehnya multitaaruf, jadinya baik dr pihak ikhwan ataw akhwat, sudah sama2 tau kalo org di hadapannya meyakini kebolehan multitaaruf…dan artinya mereka harus siap2 dgn resiko diduain ketika taaruf…
    pacaran juga ada ko yg kaya gitu…walopun seperti kasus di taaruf, kasusnya bukan umum/mayoritas…
    “lo pacaran ma gw, tp kita masing2 ga boleh ngelarang yg lain tuk jalan ma org laen”
    so, ini konsekuensi khusus…kalo mo pacaran ma tipikal kaya gitu…ya terserah…silahkan dijalani…resikonya, siap2 aja sakit hati…tp konsekuensi laennya…org tersebut boleh bebas jln ma sapa aja tanpa ada larangan dr si pacar…
    multitaaruf juga gitu…resikonya adalah diduain oleh pasangan…tp konsekuensinya adalah, masing2 boleh taaruf sama yg laen lagi…

    yg jadi permasalahan adalah ketika hal seperti ini dilakukan diam2…dimana org2 umum akan blg ini adalah selingkuh…karena rumus umum yg berlaku adalah…kalo lg pacaran/taaruf ma satu org, maka jgn coba2 utk sama yg lain…karena yg umum ada di masyarakat ya seperti itu…
    kalo mo coba2 yg multi…blg dr awal…so jadinya fair n ga sembunyi2…deal?!

    >>>>>tetep aja mas kaidah segala sesuatu itu boleh kecuali ada larangannya….artinya pernikahan seseorang tetap halal dan sah meskipun tidak minta izin kepada isterinya…., terus apakah tidak meminta izin kepada isteri ketika mau poligami apa berarti tidak menghormati isteri…?>>>>>

    hehehe…saya g bilang pernikahannya g sah ko…
    aseli ttp sah, asal syarat n rukun nikahnya terpenuhi…
    karena yg saya sorot disini adalah masalah bagaimana seseorang suami menghargai keberadaan sang istri sebagai pasangannya sekaligur makhluk Allah yg juga mempunyai perasaan…
    masalah perlu minta izin ataw g, itu g akan berpengaruh terhadap sahnya pernikahan poligami…karena g ada aturan yg dilanggar
    tp perlu diingat…adakah aturan lain yg mungkin kita langgar kalo suami nikah lagi tanpa bilang ke istri pertama???
    Saya sudah bahas di pos sebelumnya bahwa kewajiban suami atas istri salah satunya adalah menghormati sang istri…dan bentuk penghormatan ini salah satu bentuknya adalah ketika ingin berpoligami, maka bicara dan diskusikanlah dgn sang istri…
    jangankan utk masalah sebesar poligami…masalah beli rumah, perabotan, dan sekolah anak, dan apapun yg terkait dgn masalah RT…hendaknya tetap dibicarakan dgn istri bukan?
    kalau kira2 anda berposisi sebagai suami, sekarang cobalah balik posisi anda…dimana istri anda tiba2 beli rumah sendiri tanpa diskusi dgn anda terlebih dahulu, ataw tiba jual mobil tanpa bicara dgn anda terlebih dahulu…ataw tiba2 menyekolahkan anak2 anda di satu sekolah tanpa meminta pendapat anda terlebih dahulu…bagaimana perasaan anda sebagai suami?
    lebih ekstrim lagi…
    andaikan istri boleh berpoliandri…
    sekarang bayangkan diri anda sebagai seorang suami yg sangat mencintai istri anda, tiba2 mendapati istri tercinta sedang bermesraan dgn lelaki lain yg tyt adalah suami barunya dan anda sama sekali tidak mengetahui masalah itu sebelumnya? bagaimana perasaan anda?

    Quran dan hadits adalah satu aturan yg berkesinmbungan…seseorang mgkn bisa saja tidak melanggar satu aturan di dalamnya, tapi perlu dilihat lagi…apakah tindakan itu juga tidak melanggar ketentuan lain di dalamnya…:)

    utk yg komen2 di bawahnya saya pikir jawaban di atas sudah cukup mewakili…
    kalo masih ada yg kurang jelas, mgkn bisa ditanya lagi…saya akan coba menjawab semampu saya :)

    Wassalam

    Balas

Tanggapi posting ini